[NoviLimz’s Fanfic] Please Stay With Me – BAB 1

BAB 1

 

Kwon's Mansion

– Di kediaman Rumah Yunho –

No Pov

Kediaman keluarga Kwon tampak tidak seperti biasanya. Para pelayan dirumah tersebut tampak sangat tegang dan ketakutan karena saat ini tuan besar mereka sedang bersitegang dengan anak kesayangannya diruang keluarga. Yunho tampaknya sudah tidak bisa menahan emosi karena sekali lagi Yuri menolak rencana pernikahannya dengan Lee Kwangsoo dihadapan rekan bisnisnya.

“Kau harus menerima lamaran dari Kwangsoo! Appa tidak mau mendengar kau menolak rencana pernikahan kalian! Kau tahu kan? Appa bisa malu jika kau menolak lamaran Kwangsoo!” gertak Yunho kepada Yuri yang duduk disofa ruang keluarga mereka.

Yuri memberanikan diri menatap appanya dan sekali lagi menolak rencana appanya.

“Tapi appa, aku tidak menyukai Kwangsoo oppa! Lagi pula selama ini aku hanya menganggapnya sebagai teman, tidak lebih!”

Yunho melotot kearah Yuri, “Kau hanya boleh menuruti perintah appa! Tidak boleh membantah!”

Yuri berdiri dan dengan berani berdiri dihadapan appanya. Dengan berlinang airmata dan menahan rasa ingin menangis karena terus didesak oleh appanya, Yuri mulai menaikkan nada suaranya dengan sedikit bergetar karena Yuri sudah ingin menangis.

“Aku tidak mau! Yuri hanya akan menikah dengan orang yang benar-benar Yuri cintai! Itupun tanpa adanya paksaan dari appa ataupun dari siapapun juga! Ini bukan permainan appa! Ini menyangkut masa depanku, kehidupanku dan tentunya terkait dengan perasaanku!”

Yunho merasa kesal dan tak lama rekan bisnisnya yaitu ibu dari Lee Kwangsoo meminta waktu untuk berbicara empat mata kepada Yuri. Yunho menyanggupi dan pergi meninggalkan Nyonya Lee dan anaknya diruang tamu.

“Yuri-ssi, Anak tante sangat menyukaimu dan ingin mengenalmu lebih dekat. Kwangsoo adalah anak baik dan pastinya sangat mapan dengan keadaannya saat ini. Kau tidak perlu khawatir akan masa depanmu jika nanti menikah dengannya.” Kata Nyonya Lee sambil menaruh dokumen apartment dan mobil mewah untuk Yuri jika Yuri mau menerima lamaran anaknya.

“Tapi ajumma, Yuri hanya menganggap Kwangsoo oppa hanya sebagai teman!”

“Kau tidak akan menyesal jika menikah dengan Kwangsoo! Kenapa kau selalu menolak lamaran Kwangsoo?”

“Kalau boleh jujur, aku tidak suka dengan sifat Kwangsoo oppa! Kwangsoo oppa sama sekali tidak masuk dalam kriteriaku!”

“Apa?” tanya Nyonya Lee

“Bukankah anda lebih tahu sifat anak anda dengan sangat jelas?”

“Kau!! Berapa uang yang kau inginkan agar mau menikah dengan anakku? Apa syarat agar kau mau menikah dengan Kwangsoo?” Gertak Nyonya Lee sekali lagi.

Yuri yang sudah emosi tampak ketus dan menyahut dengan sinis, “Tapi aku tidak mau menikah dengan Kwangsoo oppa! Walaupun Ajumma mau membeli perasaanku dengan gunung emas dan memberikan lautan berlian sekalipun aku tidak akan mau. Jika Kwangsoo oppa menyukaiku aku tidak peduli, karena sekali lagi aku hanya menganggapnya sebagai teman dan tidak akan pernah lebih dari status teman! Hatiku tidak bisa dibeli dengan apapun juga termasuk uang! Titik!”

PLAK

Yuri menunduk dan memegangi pipinya yang memerah. Yuri menatap Nyonya Lee dengan penuh amarah karena selama ini tidak ada yang berani menampar atau memukulnya sejak kecil.

“Walaupun ajumma menamparku berkali-kali, keputusanku tetap sama!”

“Kau! Sungguh keterlaluan menolak lamaran Lee Kwangsoo!” geram Nyonya Lee sambil melihat Yuri yang masih duduk berhadapan dengannya.

“Terima kasih! Jika tidak ada urusan lain Yuri mohon diri!” sambil berdiri meninggalkan Nyonya Lee sendirian diruang tamu rumahnya.

Yunho makin geram dan marah karena anaknya benar-benar mempermalukan dirinya dihadapan rekan bisnisnya. Tanpa pikir panjang Yunho membentak Yuri saat hendak pergi kekamarnya.

“Jika kau tidak mau menuruti kemauan appa, lebih baik kau pergi dari rumah ini! Kau bukan anak dari Kwon Yunho lagi!”

Yuri mulai lepas kontrol dan akhirnya Yuri menangis. Yuri tidak menyangka appanya bersikeras menyuruhnya menikah dengan anak rekan bisnisnya dan kini tak segan mengusirnya dari rumah karena tidak mau menuruti kemauannya.

Diliputi rasa kesal, kecewa dan benci akhirnya memuat Yuri berani menantang appanya.

“Baik! Yuri akan pergi dari rumah ini! Appa jangan pernah menyesal!”

Yunho kembali keruang tamu untuk menemui rekan bisnisnya. Yunho merasa malu dan meminta maaf kepada rekan bisnisnya.

“Maafkan atas sikap kasar anak saya Nyonya Lee.”

“Jika bukan karena permintaan anakku, aku tidak akan sudi memiliki menantu seperti anakmu yang kurang sopan kepadaku! Kau harus mencari cara agar anakmu mau menerima lamaran dari Kwangsoo!” Nyonya Lee tampak mengancam Yunho dengan perkataannya. Tak lama Nyonya Lee memutuskan untuk pulang.

Yunho menjadi frustasi dan hanya bisa duduk lemas diruang tamunya. Yunho hanya bisa memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya disofa. Yunho benar-benar sudah kehilangan akal dan merasa sangat dipermalukan dihadapan rekan bisnisnya oleh anak kesayangannya sendiri.

“Andai kau masih hidup! Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi!” gumam Yunho mengingat mendiang istrinya yang telah meninggal 5 tahun lalu.

Semetara itu, Yuri berlari menuju kekamarnya dan mengambil koper dan segera mengemasi pakaiannya. Tak lama Yuri keluar dari rumah megah keluarga Kwon dengan membawa mobil pemberian mendiang ommanya.

Para pelayan tampak kebinggungan melihat nona mudanya pergi dari rumah.

“Tuan! Tuan! Nona muda pergi Tuan!” tampak pelayan tertua melapor kepada Yunho yang masih duduk diruang keluarga.

“Biarkan! Dia bukan anakku lagi!” Yunho membentak pelayan itu dan segera berjalan menuju kekamarnya.

Pelayan dirumah itu tampak kebinggungan dan tampak saling menoleh karena baru kali ini mereka melihat Tuan mereka bertengkar dengan anak kesayangannya. Setelah saling bertanya kesesama pelayan tiba-tiba mereka dikagetkan dengan suara bentakkan, “Cepat kerja! Tidak usah menghiraukan hal yang tidak penting. Kalau tidak kalian juga akan aku pecat!”

BRAK

Yunho lalu membanting pintu kamarnya.

No Pov

BMW Z4

Mobil BMW Z4 merah melaju kencang dijalanan kota Seoul. Seorang gadis muda menyetir sambil terus menahan isak tangisnya didalam mobil. Yuri mengambil handphonenya dan menelpon seseorang.

“Sekarang aku menuju ketempatmu… Kau ada dirumah atau diapartment?… Nanti aku cerita… Tunggu aku, aku akan kesana! Ok? Bye!”

Yuri menutup teleponnya dan segera memacu mobilnya menuju ke apartment mewah di tengah kota Seoul. Setelah hampir sampai didekat apartment, Yuri mengambil kaca mata hitamnya didalam laci mobil. Saat masuk kedalam apartment Yuri membuka jendela dan menyapa satpam apartment. Satpam gerbang apartment tampak mengenal Yuri dan segera membukakan pintu penjagaan untuk masuk kedalam area parkir didalam apartment.

Im's Apartment [5]

Yuri segera memarkirkan mobilnya diarea parkir basement apartment teman karibnya. Yuri segera keluar dari mobil dan mengambil kopernya dari bagasi. Yuri berjalan menuju kelift dekat area parkir mobilnya dan segera menekan tombol kelantai 8.

TING

Yuri melihat lift sudah sampai pada lantai 8. Begitu pintu lift terbuka, Yuri berjalan sambil menggeret kopernya dan berjalan menuju pintu didekat lift dilantai 8. Yuri membunyikan bel dan menunggu temannya membukakan pintu untuknya.

TINGNONG TINGNONG

Tak lama pintu terbuka dan seorang gadis tampak ragu-ragu mengintip terlebih dahulu dari celah pintu apartmentnya.

“Oh? Yuri?”

“Yoona!!!”

Yuri langsung memeluk Yoona yang berdiri tampak kebinggungan karena melihat temannya menanggis. Yoona dan Yuri berpelukkan agak lama, setelah itu Yuri merasa Yoona mulai menepuk-nepuk punggungnya.

“Ada apa Yul? Kenapa?” sambil melihat koper yang dibawa Yuri.

Yuri melepas pelukannya dan menoleh kebelakang melihat kearah kopernya yang dari tadi dilihat oleh Yoona.

“Masuk! Masuk dulu!” kata Yoona dan dengan sigap membantu Yuri membawakan kopernya masuk kedalam apartmentnya.

Im's Apartmen [3]

Yoona menyuruh Yuri duduk diruangtamu. Yoona segera mengambil minuman dikulkas dan memberikan kepada teman baiknya Yuri. Yoona lalu duduk disamping Yuri.

“Yah! Kau kenapa? Kenapa menangis dan kenapa pula kau membawa koper super besar itu?” tanya Yoona kebinggungan.

Yuri akhirnya menceritakan semua kejadian kepada Yoona hingga saat dia diusir oleh appanya. Yoona tampak sangat serius mendengarkan cerita dari sahabat karibnya dan kaget karena tidak menyangka Yuri diusir dari rumahnya.

“Ja..Jadi? Kau tidak punya tempat tinggal?” Yoona bertanya kepada Yuri. Yuri masih menangis hanya bisa mengangguk pelan.

Yuri menatap Yoona dan memegang tangan Yoona, “Bolehkah aku tinggal sementara disini bersamamu?”

“Tentu! Tentu! Kau boleh tinggal bersamaku ataupun tinggal disini sampai nanti kau kembali kekeluargamu! Anggap aku sebagai keluarga barumu Yuri!”

Yoona tersenyum dan mengelus pundak teman baiknya, “Sudah jangan menangis lagi! Mana kkab Kwon yang aku kenal?”

Yoona menggandeng tangan Yuri dan mengajaknya kesalah satu kamar didalam apartmentnya. Yoona membuka pintu dan menyalakan lampu kamar.

Im's Apartment [2]

“Kau bisa tidur disini. Aku berada dikamar sebelah. Jika kau butuh bantuan kau bisa memanggilku. Istirahat saja dulu. Aku tahu kau pasti capek dan lelah.”

Yoona keluar dari kamar dan kembali dengan membawa koper Yuri kedalam kamar.

“Apa aku tidak mengganggumu dan merepotkan keluargamu?” tanya Yuri karena merasa telah merepotkan teman baiknya sejak kecil.

“Ah tidak! Jangan berpikiran macam-macam. Justru sekarang ada kau yang bisa membantuku menjaga apartmentku! Tapi kadang aku harus tinggal dirumah, apa kau tidak apa tinggal sendirian diapartment? Biasanya kau jadi tuan putri dirumah kan?” goda Yoona.

“Tidak, aku tidak apa-apa tinggal sendirian. Aku sangat berterima kasih kau mau mengijinkanku tinggal sementara disini Yoong!” Yuri terharu dan mulai berlinang airmata.

“Aigoo~ Sudah! Sudah! Cepat istirahat! Nanti malam kau ikut aku keluar mencari makan, Ok?” Yoona tersenyum dan tampak antusias saat membahas tentang makan malam. Yoona akhirnya keluar dari kamar meninggalkan Yuri sendirian didalam kamar tidurnya yang baru.

Yuri hanya bisa menghela napas panjang dan berjalan didekat jendela besar dari kamarnya. Yuri melihat dari kejauhan langit tiba-tiba berubah menjadi mendung  dan tampak agak gelap. Suasana menjadi tampak mencekam dan seperti hendak hujan badai. Yuri agak kaget saat melihat sinar terang turun dari kumpulan awan menuju kedaerah pegunungan. Yuri kaget melihat sinar petir yang cukup terang dan kejadiannya cukup cepat itu. Setelah sinar itu menghilang tiba-tiba keadaan langit berubah menjadi terang kembali dan tampak tidak seperti tadi.

“Apa itu? Petir?”

“Tapi kenapa bukan seperti petir? Tapi kenapa cuaca tampak aneh hari ini? Ah.. Mungkin aku capek. Sudah saatnya untuk beristirahat sejenak!” Yuri kemudian menutup korden jendela besar dari kamarnya dan segera merebahkan diri diatas ranjang hingga tertidur.

~ PLEASE DON’T REUPLOAD/REEDIT/POSTING THIS FANFIC AT ANOTHER WEBSITE! ~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s